Dahulu para sahabat hidup dalam kejahiliyaan yang sangat kelam. Seorang membuat Tuhannya, mengubur anaknya hidup-hidup, saling membunuh, wanita-wanita keluar dengan mengumbar aurat, tawaf tanpa mengenakan busana, dan seabrek coreng hitam telah menghiasi kehidupan kelam mereka.
Hingga diutuslah Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam- menebar cahaya dan petunjuk, sebagai rahmat bagi seluruh alam, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan bagi mereka seluruhnya. Allah -ta'ala- berfirman;“Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.
Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mu'min bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah. Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.” (al-Ahzaab; 45-48).
Setelah datangnya Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- sebagai nabi penebar rahmat dan sebaik-baik pembimbing, terjadilah sebuah reformasi total yang tidak akan pernah tertandingi dalam sejarah peradaban manusia. Sebuah perubahan yang sangat dramatis, dari kehidupan yang begitu kelam, kepada cahaya yang terang benderang … dari ummat yang terbelakang, menjadi sebaik-baik ummat.
Allah -ta'ala- berfirman;
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imraan; 110)
Mengetahui keadaan mereka, ketenangan hidup dan kejayaan yang telah mereka raih, menjadikan hati bergejolak rindu ingin menjadi seperti mereka.
Maka untuk berusaha sama dengan mereka, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mempelajari ciri mendasar dari kehidupan mereka, hingga diharapkan bahwa kita pun dapat meneladaninya dan meraih kembali apa yang dahulu telah mereka raih, berupa kejayaan dan kebahagiaan hidup di bawah naungan wahyu Allah -ta'ala-.
Lantas apa ciri mendasar dari kehidupan mereka ?
.1. Pengagungan terhadap syari’at Allah -ta'ala-.Ketundukan dan loyalitas, yang didasari oleh rasa takut, pengharapan, dan cinta adalah merupakan ciri utama generasi tersebut.
Allah -ta'ala- berfirman;“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’; 65) “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dengan seluruh ketetapan-Nya ...”. (at-Taubah; 100) “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.
Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkanlah mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (al-Mujadilah; 22)
Demikianlah salah satu ciri mendasar dari kehidupan mereka, ... ciri yang mungkin atau memang telah lenyap dari lembar kehidupan kaum muslimin saat ini, yang salah satu indikasinya adalah muncul dan merebaknya fenomena istihza’ (mengolok-olok agama), aliran sesat, menampakkan pembangkangan terhadap syari’at Allah -ta'ala-, bermaksiat secara terang-terangan, dan yang semisalnya. Seluruh kejahatan yang disebutkan tidak lain merupakan gambaran akan lemahnya tingkat pengagungan kaum muslimin terhadap syari’at agama mereka. Allahul musta’an wahuwa waliyyut taufiiq.
2. Keseragaman sumber rujukan dalam beragama.Al-Quran dan sunnah Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- adalah dua sumber yang telah membentuk pola pikir dan pola gerak mereka. Mereka adalah generasi wahyu. Olehnya, wajar jika mereka senantiasa berada dalam kebaikan dan petunjuk. Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda;“Saya telah meninggalkan bagi kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu; kitabullah dan sunnah Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-”. (H.R Imam Malik) Disebutkan dalam sebuah riwayat, “Pernah Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- melihat Umar bin Khaththab –radhiyallahu ‘anhuma- memegang kitab selain al-Quran yang didapatinya dari beberapa orang ahli kitab. Lantas beliau membacakannya pada Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-, dan Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- pun marah, seraya berkata kepada Umar;“Apakah engkau masih berada dalam keraguan wahai Umar ?.
Demi Zat yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sungguh saya telah datang dengan membawa pengganti yang jelas.” (H.R Ahmad, lihat al-Irwaa’; 6/34) Demikianlah ciri generasi tersebut, dan jika dibandingkan dengan ummat saat ini, maka akan terlihat perbedaan yang begitu mencolok; dimana sebagian kaum muslimin atau -bahkan- sebagian besar mereka sangat bangga dengan berbagai pola pikir serapan dalam memahami agama ini, dan merasa minder memakai tradisi salaf dalam mempelajari agama yang mulia ini.
3. Pengamalan terhadap setiap ilmu yang mereka dapatkan.Fenomena ini –juga- sangat nyata dalam kehidupan para sahabat. Mereka sangat rakus dalam mendapatkan ilmu. Namun tidaklah tujuan mereka dalam menuntutnya semata untuk ilmu itu, melainkan untuk mengamalkannya. Salah satu contoh nyata akan hal ini adalah riwayat turunnya ayat tentang pengharaman khamar. Allah -ta'ala- berfirman;“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (al-Maaidah; 90) Begitu ayat tersebut turun, maka jalan-jalan kota Medinah pun penuh dengan tumpahan khamar, sedangkan minuman tersebut –kala itu- adalah salah satu minuman favorit mereka. Hal ini –tentunya- merupakan gambaran akan ketundukan mereka untuk segera mengamalkan ilmu yang mereka dapatkan dari Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam-.
Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ’anhu- berkata;“Dahulu orang-orang yang mempelajari al-Quran, tidaklah mereka berpindah dari 10 ayat yang mereka pelajari hingga mereka tahu maknanya dan beramal dengannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/8)
Ketiga hal yang telah disebutkan, kiranya adalah asas utama kegemilangan yang telah mereka raih bersama Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- dan masa-masa keemasan setelahnya. Pengagungan terhadap syari’at Allah -ta'ala-, keseragaman sumber rujukan dalam beragama dan pengamalan terhadap setiap ilmu yang mereka dapatkan; tiga hal ini telah membentuk sebuah generasi rabbani, generasi yang memiliki tingkat istijabah yang sungguh luar biasa, generasi yang diridhai dan mereka pun ridha kepada Allah -ta'ala-.
Istijabah terhadap tuntunan Allah -ta'ala- (menjawab seluruh seruannya) adalah seutama-utamanya ibadah.
Istijabah kepada Allah -ta'ala- adalah sumber kehidupan. Berkah tidaknya kehidupan seseorang di dunia merupakan hal yang sejalan dengan tingkat ketundukannya kepada Allah -ta'ala-. Semakin tunduk seseorang kepada Allah -ta'ala-, maka akan semakin baik kehidupannya di dunia dan –kelak- di akhirat. Allah -ta'ala- berfirman;“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan yang hakiki kepada kamu”. (al-Anfaal; 24)
Istijabah kepada Allah -ta'ala- adalah sebab dikabulkannya doa. Allah -ta'ala- berfirman;“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah; 186)
Istijabah adalah sebab kebahagiaan abadi seseorang, dan sebaliknya, ingkar terhadap seruan Allah -ta'ala- adalah sebab kesengsaraan yang abadi. Allah -ta'ala- berfirman;“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu.
Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahannam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (ar-Ra’du; 18)
Semoga Allah -ta'ala- menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang senantiasa memiliki kerinduan untuk serupa dengan generasi sahabat, memberi kita taufik dan hidayah, ... dan melindungi kita termasuk dalam golongan orang-orang tuli, yang tidak mendengar seruan-Nya ... mereka itulah orang-orang sesat lagi dzhalim.
“Maka jika mereka tidak menjawab panggilanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Qashash; 50) “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang.
Dan kamu sekali-kali tidak dapat memalingkan orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.” (an-Naml; 80-81)
Uzt. Irfan Zein,Lc.
Rabu, 08 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar